Selasa, 15 November 2011

PROPOSAL SKRIPSI WAHYU SARYADI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah berkembang pesat pada saat sekarang ini, baik materi maupun kegunaannya. Dengan menguasai pengetahuan Matematika khususnya siswa di sekolah, memungkinkan siswa akan lebih mudah dalam menerima pengetahuan ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang semakin pesat, baik langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu mutu pendidikan harus ditingkatkan terutama ilmu ”berhitung” atau ”Matematika”, peranan Matematika dalam kehidupan telah membawa kehidupan manusia ke zaman teknologi modern.
Begitu pentingnya peranan Matematika terhadap masa depan bangsa, maka pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan mutu pelajaran Matematika dengan berbagai upaya misalnya dengan pemberian alat peraga, buku paket, olympiade Matematika, serta penyempurnaan kurikulum, siswa atau anak didik sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan sebagai pembimbing berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan maka perlu adanya perbaikan, pembaharuan, serta perubahan dalam segala aspek diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa serta metode pengajaran.
Pembelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Giriwoyo khususnya di kelas VIIIA, sering mengalami hambatan dan kesulitan terutama dalam pencapaian hasil belajar yang diharapkan, hal itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah banyak siswa yang berpendapat bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit, sehingga sebagian besar siswa kurang menyenangi pelajaran Matematika, sehingga minat belajar mereka rendah, akibatnya hasil belajar yang diinginkan kadang tidak tercapai. Pelajaran Matematika identik dengan kegiatan hitung-menghitung yang menurut sebagian siswa membuat pusing. Adanya keterbatasan media membuat guru kesulitan menerangkan materi tertentu dalam pembelajaran Matematika.
Sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran siswa, guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya bahkan sangat menentukan bagi berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar. Guru harus memahami perbedaan kemampuan, potensi, minat, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga dan lain-lain dalam proses pembelajaran siswa. Agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dapat memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut, maka guru perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain mengurangi metode ceramah, memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, bahan belajar perlu dimodifikasi dan
diperkaya, mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dan belajar dengan kemampuan masing-masing pada tiap mata pelajaran serta lebih melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran.
Penggunaan metode ceramah secara terus menerus, tanpa ada kreativitas guru dengan menerapkan pendekatan pembelajaran lain yang bervariasi, pasti akan menyebabkan kejenuhan maupun kebosanan bagi siswa, yang pada kelanjutannya dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa.
Dari hasil tes semester genap tahun pelajaran 2010/2011 mata pelajaran matematika pada siswa kelas tersebut, hanya 14 siswa (43,8%) yang mampu memperoleh nilai di atas 73,0 sebelum perbaikan (remidi), dengan nilai rata-rata kelas yang cukup rendah yaitu 72,6. Jika menggunakan batas ketuntasan 73,0, maka hanya 14 siswa tersebut yang dapat dinyatakan tuntas untuk mata pelajaran matematika.
Fenomena ini merupakan salah satu keprihatinan yang perlu untuk segera dicarikan pemecahannya. Peneliti sebagai calon guru matematika merasa bertanggung jawab dan terpanggil untuk segera mencari solusi guna mengatasi persoalan tersebut, dengan harapan siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Hasil pembelajaran matematika tidak akan optimal apabila guru masih mengajar dengan pendekatan tradisional. Pengajaran dianggap sebagai proses penyampaian fakta-fakta kepada para siswa. Siswa dianggap berhasil dalam belajar apabila mampu mengingat banyak fakta, dan mampu menyampaikan kembali fakta-fakta tersebut kepada orang lain, atau menggunakannya untuk menjawab soal-soal dalam ujian.
Jadi, diperlukan pendekatan pembelajaran matematika yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan menerapkan matematika dalam keadaan nyata sehingga pembelajaran matematika bisa bermakna bagi siswa.
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik atau Realistic Mathematics Education (RME). Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.

B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah pendekatan RME dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo Tahun Pelajaran 2011/2012?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan pendekatan pembelajaran RME.



D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah :
1. Bagi Siswa
Merasa tidak jenuh terhadap suasana kelas yang monoton akibat kurangnya inovasi pembelajaran oleh guru, sehingga semakin termotivasi dan terlibat aktif dalam proses belajarnya agar mampu meningkatkan prestasi belajarnya.
2. Bagi Guru
Mendorong dan merangsang guru untuk berfikir kreatif dalam menemukan maupun menerapkan model pembelajaran yang variatif agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memotivasi siswa dalam belajar yang pada gilirannya dapat meningkatan kualitas sekolah.
3. Bagi Sekolah
Dapat dimanfaatkan sebagai salah satu referensi yang memberikan informasi mengenai kelebihan dan kekurangan penerapan RME dalam rangka peningkatan usaha-usaha pelayanan pendidikan sekolah bagi para siswanya.


BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori
1. Prestasi Belajar Matematika
a. Pengertian Belajar
Sebagian terbesar dari proses perkembangan manusia berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau yang kurang baik, direncanakan atau tidak direncanakan.
Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut : “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Daryanto, 2010:2)
b. Teorema Belajar Matematika
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline Versi 1.3 (2010) disebutkan bahwa, ”Matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antar bilangan dan prosedur operasionalnya yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan”.
Sedangkan menurut pendapat Mansyur (2007:42), ”Matematika dari bahasa Yunani mathein atau manthenein artinya mempelajari, pengetahuan tertua, terbentuk dari penelitian bilangan dan ruangan”. Sejak jaman kuno Matematika berkembang sebagai pengetahuan abstrak dan deduktif dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman keindahan, tetapi atas dasar kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah tertentu melalui deduktif. Di samping definisi, Matematika memiliki pengertian-pengertian dasar tertentu. Segala masalah dan hubungan dapat dipecahkan melalui pernyataan-pernyataan tertentu, yang kemudian diterima sebagai kebenaran.
Pernyataan itu disebut aksioma dan dengan cara deduksi diperoleh pernyataan-pernyataan lain yang dapat dibuktikan, yakni disebut teorema. Teorema merupakan dasar untuk teori. Pada proses penyusunan teori-teori matematika secara kreatif, wawasan pemikiran berperan penting, pada penyusunan suatu teori secara definitif, penalaran secara logis dengan pembuktian merupakan titik pusat utama. Dalam sistem tersebut, antara aksioma, dalil dan definisi-definisi harus konsisten yaitu satu sama lain tidak saling bertentangan. Penurunan dalil dari aksioma-aksioma harus mengikuti hukum-hukum logika. Jadi pada hakikatnya Matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, proses dan penalaran yang tersusun secara hierarkis dan deduktif.
c. Unsur-unsur Belajar
Menurut pernyataan Cronbach seperti yang dikutip oleh Sukmadinata ( dalam Tama, 2010:15) terdapat tujuh unsur utama dalam proses belajar yaitu : ”(1) Tujuan; (2) Kesiapan; (3) Situasi; (4) Interpretasi; (5) Respons; (6) Konsekuensi dan (7) Reaksi terhadap kegagalan”
Unsur belajar adalah komponen – komponen yang ada dalam proses belajar tersebut, diantara adalah :
1) Tujuan
Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini muncul untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Perbuatan belajar diarahkan kepada pencapaian suatu tujuan dan untuk memenuhi suatu kebutuhan. Perbuatan belajar akan efisien apabila terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu.
2) Kesiapan
Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik, maka anak atau individu perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik dan psikis, kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan-kecakapan lain yang mendasarinya.
3) Situasi
Kegiatan belajar berlangsung dalam situasi belajar. Dalam situasi belajar ini terlibat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, orang-orang yang turut tersangkut dalam kegiatan belajar serta kondisi siswa yang belajar. Kelancaran dan hasil belajar banyak dipengaruhi oleh situasi ini, walaupun untuk individu dan pada waktu tertentu sesuatu aspek dari situasi belajar ini lebih dominan sedang pada individu atau waktu lain aspek lain yang lebih dominan.
4) Interpretasi
Dalam menghadapi situasi, individu mengadakan interpretasi, yaitu melihat hubungan di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan. Berdasarkan interpretasi tersebut mungkin individu sampai kepada kesimpulan dapat atau tidak dapat mencapai tujuan.
5) Respons
Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respons. Respons ini mungkin berupa suatu usaha coba-coba (trial and error), atau usaha yang penuh perhitungan dan perencanaan ataupun ia menghentikan usahanya untuk mencapai tujuan tersebut.
6) Konsekuensi
Setiap usaha akan membawa hasil, baik berupa keberhasilan ataupun kegagalan, demikian juga dengan respons atau usaha belajar siswa. Jika siswa berhasil dalam belajar ia akan merasa senang, puas dan akan lebih meningkatkan semangatnya untuk melakukan usaha-usaha belajar berikutnya.

7) Reaksi terhadap kegagalan
Selain keberhasilan, kemungkinan lain yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih dan kecewa. Reaksi siswa terhadap kegagalan dalam belajar bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa menurunkan semangat dan memperkecil usaha-usaha belajar selanjutnya, tetapi bisa juga sebaliknya, kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi kegagalan tersebut.
d. Sumber-sumber Belajar
Segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan dalam proses belajar mengajar. Menurut Iskandar (2009:205) sumber belajar juga berfungsi meningkatkan produktifitas pembelajaran dengan jalan :
1) Mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik.
2) Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi. Sehingga dapat lebih banyak membina mengembangkan gairan
Sumber belajar dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Manusia
Yaitu orang yang menyampaikan pesan secara langsung, seperti guru, konselor, dosen, yang diniati secara khusus dan disengaja untuk kepentingan belajar (by design). Di samping itu ada pula orang yang tidak diniati untuk kepentingan proses belajar mengajar tetapi memiliki suatu keahlian yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan proses belajar mengajar, misalnya penyuluh kesehatan, pemimpin organisasi, pengurus koperasi dan sebagainya. Orang-orang tersebut sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar.
2) Bahan
Yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang diniati secara khusus seperti film pendidikan, peta, grafik, buku pelajaran dan sebagainya, yang biasanya disebut media pembelajaran, maupun bahan yang bersifat umum seperti film keluarga berencana bisa dimanfaatkan untuk kepentingan belajar.
3) Lingkungan
Yaitu ruang dan tempat dimana sumber-sumber belajar dapat berinteraksi dengan para peserta didik. Ruang dan tempat yang diniati secara sengaja untuk kepentingan belajar, misalnya perpustakaan, ruang kelas, laboratorium, alam sekitar dan sebagainya. Di samping itu ada pula ruang dan tempat yang tidak diniati untuk kepentingan belajar, namun bisa dimanfaatkan, misalnya museum, kebun binatang, kebun raya, candi, tempat-tempat ibadat dan sebagainya.
4) Alat dan peralatan
Yaitu sumber belajar untuk produksi atau memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan produksi misalnya kamera untuk produksi foto, tape recorder untuk rekaman. Sedang alat dan peralatan yang digunakan untuk memainkan sumber lain misalnya pesawat televisi, radio, proyektor dan lain-lain.
5) Aktivitas
Yaitu sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya pengajaran dengan simulasi atau karyawisata.
Pendayagunaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting, selain melengkapi, memelihara dan memperkaya khasanah belajar, sumber belajar juga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar, yang sangat menguntungkan baik bagi guru maupun bagi para peserta didik. Dengan didayagunakannya sumber belajar secara maksimal, dimungkinkan orang yang belajar dapat menggali berbagai jenis ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya, sehingga pengetahuannya selalu aktual serta mampu mengikuti akselerasi teknologi dan seni yang senantiasa berubah.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar dapat diartikan sebagai penguasaan, pengetahuan, keterampilan atau kemampuan nyata yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar, yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka atau nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan keterampilan terhadap mata pelajaran yang dibutuhkan melalui hasil tes (Salim dalam Rahayu, 2010:3).
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dalam pencapaian prestasi belajar yang sesuai dengan keinginan, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, antara lain :
1) Faktor internal
Yaitu faktor yang berasal di individu itu sendiri. Faktor ini meliputi :
a) Kecerdasan
Tingkat kecerdasan merupakan kemampuan dasar dalam prestasi berfikir yang dimiliki seseorang. Makin tinggi tingkat kecerdasan maka makin besar kemungkinan berhasil dalam prestasi belajarnya.
b) Bakat dan minat
Bakat adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir. Sedangkan minat adalah kekuatan yang berasal dari dalam diri individu yang memegang peranan sebagai sumber motivasi. Adanya perbedaan bakat dan minat individu akan mempengaruhi prestasi belajarnya.
c) Motivasi
Motivasi adalah keadaan yang terdapat di dalam diri sebagai daya pengerak untuk melakukan suatu aktivitas. Motivasi yang kuat dapat mendorong seseorang untuk berusaha mengatasi masalah yang dihadapi dengan baik.
d) Kerpercayaan pada diri sendiri
Seseorang yang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri berkeyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan yang sama dengan temannya untuk dapat mencapai prestasi yang baik.
2) Faktor eksternal
Yaitu faktor yang berasal dari luar individu. Faktor eksternal ini antara lain, meliputi :
a) Faktor keluarga
1) Situasi keluarga
Keadaan keluarga yang selalu tegang atau broken home mempengaruhi perkembangan perasaan, tingkah laku dan kebutuhan anak, sehingga mempengaruhi prestasi belajarnya.
2) Keadaan ekonomi keluarga
Tingkat ekonomi dalam keluarga sangat menentukan terhadap tingkat pemenuhan dan jenis kebutuhan anak, termasuk kebutuhan akan sarana dan prasarana belajarnya. Semakin tidak terpenuhi kebutuhan/fasilitas belajarnya, maka makin terhambat prestasi belajarnya.



3) Pengertian orang tua
Pengertian orang tua diperlukan dalam keberhasilan belajar anak. Orang tua perlu memberikan bimbingan, arahan dan
motivasi kepada anak dalam mengatasi kesulitan belajar.
4) Kesibukan keluarga
Keluarga yang sibuk, akan sedikit memiliki waktu untuk memperhatikan anak-anaknya, sehingga anak kurang mendapat kasih sayang, akibatnya anak mengalami hambatan dalam prestasi belajarnya.
b) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang dapat menghambat keberhasilan prestasi belajar anak adalah keadaan sekolah yang kurang baik seperti lingkungan sekolah, fasilitas dalam sekolah, keadaan guru, tidak ada kerja sama antara guru dan siswa, dan sebagainya.
c) Faktor lingkungan
Lingkungan alam sekitar, misalnya musim, iklim, suhu udara akan mempengaruhi seseorang di dalam belajarnya. Juga lingkungan sosial, baik berupa manusia maupun berujud hal-hal lain (misalnya suara-suara kebisingan mesin, lalu lintas jalan raya), berpengaruh terhadap hasil belajar.
3. Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu pola pembelajaran yang dapat menerangkan proses, menyebutkan dan menghasilkan lingkungan belajar tertentu sehingga siswa dapat berinteraksi yang selanjutnya berakibat terjadinya perubahan pada siswa secara khusus”. Jadi model pembelajaran dapat membantu guru dalam penguasaan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan upaya mengubah minat siswa sejalan dengan rencana yang telah ditetapkan. Hal ini berarti bahwa model pembelajaran diharapkan dapat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Oleh karena itu kegunaan model pembelajaran bagi guru antara lain membimbing, membantu dan peningkatan efektivitas pembelajaran. Membimbing dalam hal ini adalah menolong guru dalam menentukan apa yang seharusnya dilakukan guru dalam rangka pencapaian tujuan. Membantu dalam pengembangan kurikulum berkaitan dengan pemahaman tentang usia siswa, sehingga perhatian guru disamping pada materi yang akan dikembangkan dalam pembelajaran juga kondisi psikologis yang sejalan dengan usia siswa. Selanjutnya penetapan material pembelajaran berkaitan dengan macam dan jenis materi yang dipilih dan digunakan guru dalam rangka mengubah tingkah laku siswa. Melalui pemilihan material pembelajaran ini kepribadian siswa diharapkan dapat terbentuk melalui kebiasaan cara belajar yang dilakukan. Akhirnya dari semua hal di atas, efektivitas pembelajaran dapat dicapai melalui pembelajaran yang dilakukan guru. Efektivitas merujuk pada aktivitas guru yang tidak semata-mata bertindak secara prosedural, tetapi juga mampu dan menggerakkan partisipasi siswa dalam pembelajaran.
4. Ciri Model Pembelajaran yang Baik
Ciri model pembelajaran yang baik seperti yang diungkapkan oleh Suparwoto ( dalam Tama, 2010:14) dapat meningkatkan prestasi belajar antara lain :
a. Memiliki prosedur yang sistematik dalam mengubah perilaku siswa
b. Menyebutkan hasil belajar secara detail tentang penampilan siswa
c. Menjelaskan secara pasti kondisi lingkungan belajar, yang pada lingkungan tersebut perilaku siswa dapat diamati
d. Memiliki kriteria penampilan siswa yang spesifik dan dapat ditampilkan melalui langkah-langkah pembelajaran yang ditetapkan
e. Menyebutkan mekanisme yang merujuk pada reaksi siswa dalam interaksinya dengan lingkungan yang tersedia.
5. Metode Pembelajaran Konvensional
Istilah metode pembelajaran konvensional sama artinya dengan metode pembelajaran tradisional. Tradisional berarti sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode konvensional adalah suatu metode mengajar yang telah lama dan biasa dipakai. Kegiatan belajar mengajar konvensional biasanya masih mengandalkan ceramah dalam memberikan atau menyampaikan materi pelajaran. Ciri metode konvensional guru cenderung mendominasi dan memegang peranan utama dalam menentukan isi dan metode mengajar. Kegiatan belajar yang seragam cenderung lebih banyak diberikan oleh guru karena cara itu merupakan cara yang paling mudah memelihara ketenangan kelas. Akibatnya siswa mudah jenuh, kurang inisiatif, sangat tergantung pada guru dan tidak terlatih untuk mandiri dalam belajar.
Dalam pengajaran Matematika, metode pembelajaran yang biasa dipakai adalah metode ekspositori. Metode ekspositori adalah metode konvensional/ceramah yang digunakan pada awal pelajaran, menerangkan materi dan mencatat, bila dipandang perlu untuk memberi
kesempatan pada siswa mengadakan tanya jawab. Tanya jawab diperlukan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap apa yang telah disampaikan oleh guru melalui metode ceramah. Untuk lebih memantapkan penguasaan terhadap materi yang telah disampaikan, pada tahapan berikutnya siswa diberi tugas, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah atau latihan soal.

Berikut ini adalah contoh model pembelajaran metode ekspositori.
Tabel 2.1. Model Pembelajaran Metode Ekspositori
No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan Menciptakan kondisi belajar siswa.
2.
Pelaksanaan
1. Penyajian, tahap guru menyampaikan materi pelajaran (metode ceramah)
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan membandingkan materi pelajaran dengan pemahaman siswa yang telah diterimanya melalui tanya jawab.
3. Memberi tugas kepada siswa untuk membuat kesimpulan atau latihan soal.
3. Evaluasi Mengadakan penilaian terhadap pemahaman siswa mengenai bahan yang telah diterimanya melalui tes atau tugas lain.

6. Bentuk-bentuk Pembelajaran Matematika
Tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diluncurkan pada tahun 2006 bahwa kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan maupun kepentingan peserta didik dan lingkungannya
b. Beragam dan terpadu
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
f. Belajar sepanjang hayat
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.



7. Realistic Mathematics Education (RME)
a. Sejarah RME
RME tidak dapat dipisahkan dari Institut Freudenthal yang didirikan pada tahun 1971, berada di bawah Utrecht University, Belanda. Nama institut diambil dari nama pendirinya, yaitu Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan berkebangsaan Jerman/Belanda.
Sejak tahun 1971, Institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika yang dikenal dengan RME (Realistic Mathematics Education). RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus diajarkan. Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai passive receivers of ready-made mathematics (penerima pasif matematika yang sudah jadi). Menurutnya pendidikan harus mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan kembali matematika dengan cara mereka sendiri (Hadi, dalam Wahyu, 2009:6). Menurut Hassan (1991:71) pendidikan mengandung pengertian sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia dalam arti seluas-luasnya.
b. Pengertian RME
Soedjadi (dalam Wahyu 2009:7) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau konkrit yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan lingkungan adalah lingkungan yang dapat dipahami peserta didik yang berada dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Trefers (dalam Wahyu 2009:7) pendekatan realistik menggunakan dua komponen matematisasi dalam proses pembelajaran matematika yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Dalam matematisasi horizontal siswa dengan pengetahuan yang dimilikinya dapat mengorganisasikan dan memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata lain matematisasi horizontal bergerak dari dunia nyata ke dunia simbol. Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses pengorganisasian kembali dengan menggunakan matematika itu sendiri. Jadi, dalam matematisasi vertikal bergerak dalam dunia symbol, seperti ditunjukkan gambar berikut :
















Gambar 2.1. Matematisasi Horisontal dan Vertikal

Dalam matematisasi horisontal, siswa mulai dari soal-soal kontekstual, mencoba menguraikan dengan bahasa dan simbol yang dibuat sendiri, kemudian menyelesaikan soal tersebut. Dalam proses ini, setiap orang dapat menggunakan cara mereka sendiri yang mungkin berbeda dengan orang lain. Dalam matematisasi vertikal, kita juga mulai dari soal-soal kontekstual, tetapi dalam jangka panjang kita dapat menyusun prosedur tertentu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal-soal sejenis secara langsung, tanpa bantuan konteks.
Jadi, dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan RME dimulai dengan hal-hal kongkrit atau nyata, kemudian dengan bantuan guru siswa diberi kesempatan menemukan dan mengkonstrusi sendiri model, konsep dan prosedur matematika, selanjutnya diaplikasikan dalam masalah kehidupan sehari-hari
c. Prinsip RME
Berkaitan dengan penggunaan masalah konstektual yang realistik, menurut De Lange (dalam Supinah, 2008:18) ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :
1) Titik awal pembelajaran harus benar – benar hal yang realistik, sesuai dengan pengalaman siswa, termasuk cara matematis yang sudah dimiliki oleh siswa, supaya siswa dapat melibatkan dirinya dalam kegiatan belajar secara bermakna.
2) Disamping harus realistik bagi siswa, titik awal itu harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi tujuan pembelajaran dan urutan belajar.
3) Urutan pembelajaran harus memuat bagian yang melibatkan aktivitas yang diharapkan memberi kesempatan bagi siswa, atau membantu siswa, untuk menciptakan dan menjelaskan model simbolik dari kegiatan matematis informalnya.
4) Untuk melaksanakan ketiga prinsip tersebut, siswa harus terlibat secara interaktif, menjelaskan dan memberikan alasan pekerjaannya memecahkan masalah konstektual (solusi yang diperoleh), memahami pekerjaan (solusi) temannya, menjelaskan dalam diskusi kelas sikapnya setuju atau tidak setuju dengan solusi temannya, menanyakan alternatif pemecahan masalah dan merefleksikan solusi – solusi itu.
5) Struktur dan konsep – konsep matematis yang muncul dari pemecahan masalah realistik itu mengarah ke interwining (pengaitan) antara bagian – bagian materi.
d. Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan RME
Dari prinsip di atas diperoleh kesimpulan bahwa Pendekatan Matematika Realistik (PMR) secara garis besar memiliki lima karakteristik. Menurut Treffers dan Van den Heuvel-Panhuizen yang dikutip Suharta ( dalam Darsono, 2010:5), karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan (intertwinment) dan dijelaskan sebagai berikut :
1) Menggunakan konteks “dunia nyata”
Dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata yang dinyatakan oleh De Lange sebagai matematisasi konseptual. Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit. Kemudian siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization).
Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematika dalam sehari-hari.
2) Menggunakan model-model (matematisasi)
Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models). Peran self developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal.
Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pertama adalah model situasi yang dekat dengan dunia nyata siswa. Generalisasi dan formalisasi model-model tersebut akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah sejenis. Pada akhirnya, akan menjadi model matematika formal.
3) Menggunakan produksi dan konstruksi
Dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar. Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal


4) Menggunakan interaktif
Interaksi antar siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam RME. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.
5) Menggunakan keterkaitan (intertwinment)
Dalam RME pengintegrasian unit-unit matematika adalah esensial. Jika dalam pembelajaran kita mengabaikan keterkaitan dengan bidang yang lain, maka akan berpengaruh pada pemecahan masalah. Dalam mengaplikasikan matematika, biasanya diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks, dan tidak hanya aritmetika, aljabar, atau geometri tetapi juga bidang lain
e. Konsepsi RME
Menurut Hadi (dalam Darsono, 2010:5) berdasarkan karakteristik tersebut RME mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut:
1) Siswa memiliki seperangkat konsep laternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
2) Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;
3) Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan;
4) Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;
5) Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik
RME juga mempunyai konsepsi tentang guru sebagai berikut:
1) Guru hanya sebagai fasilitator belajar;
2) Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
3) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
4) Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil, baik fisik maupun sosial.
Menurut De Lange yang dikutip Hadi (dalam Darsono, 2010:7) Begitu pula RME mempunyai konsepsi tentang pembelajaran, bahwa pengajaran matematika dengan pendekatan RME meliputi aspek-aspek berikut :
1) Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna;
2) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;
3) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan;
4) Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran
f. Langkah – langkah pembelajaran dengan pendekatan RME
1) Memahami masalah/soal kontekstual. Guru memberikan masalah/soal kontekstual dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
2) Menjelaskan masalah kontekstual. Guru menjelaskan situasi dan kondisi soal dengan memberikan petunjuk/saran seperlunya terhadap bagian tertentu yang belum dipahami siswa, penjelasan hanya sampai siswa mengerti maksud soal.
3) Menyelesaikan masalah kontekstual. Siswa secara individu atau kelompok menyelesaikan soal. Perbedaan dalam memahami soal diperbolehkan. Dengan menggunakan Lembar Kegiatan Siswa, siswa mengerjakan soal dalam tingkat kesulitan yang berbeda. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri dengan memberikan arahan berupa pertanyaan-pertanyaan.
4) Membandingkan dan mendiskusikan jawaban. Guru memfasilitasi diskusi dan menyediakan waktu atau kesempatan untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dari soal secara kelompok, untuk selanjutnya secara diskusi di kelas.
5) Menyimpulkan. Dari hasil diskusi guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu konsep atau prosedur, selanjutnya guru meringkas atau menjelaskan konsep yang termuat dalam soal itu (Turmuzi, dalam Wahyu 2009:8).

Berikut ini tabel implementasi RME
Tabel 2.2 Sintaks Implementasi RME
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Guru memberikan siswa masalah kontekstual Siswa secara sendiri atau kelompok kecil mengerjakan masalah dengan strategi-strategi informal.
Guru merespon secara positif jawaban siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan strategi siswa yang paling efektif.
Guru mengarahkan siswa pada beberapa masalah kontekstual dan selanjutnya meminta siswa mengerjakan masalah dengan menggunakan pengalaman mereka Siswa secara sendiri-sendiri atau berkelompok menyelesaikan masalah tersebut.
Guru mengelilingi siswa sambil memberikan bantuan seperlunya. Beberapa siswa mengerjakan di papan tulis. Melalui diskusi kelas, jawaban siswa dikonfrontasikan.
Guru mengenalkan istilah konsep Siswa merumuskan bentuk matematika formal.
Guru memberikan tugas di rumah, yaitu mengerjakan soal atau membuat masalah cerita beserta jawabanya yang sesuai dengan matematika formal. Siswa mengerjakan tugas rumah dan menyerahkannya kepada guru




g. Asesmen dalam RME
1) Prinsip Asesmen
Lima prinsip mengenai asesmen sebagai petunjuk dalam melaksanakan asesmen yaitu sebagai berikut :
a) Tujuan utama dari tes atau pengetesan adalah untuk memperbaiki pembelajaran dan hasil belajar. Ini berarti asesmen harus mengukur siswa selama proses belajar mengajar berlangsung dalam satuan pelajaran.
b) Metode asesmen harus memungkinkan siswa mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui bukannya apa yang mereka tidak ketahui. Hal itu dapat dibimbing dengan menyediakan soal-soal yang memungkinkan banyak jawaban dengan berbagai strategi.
c) Asesmen harus mengoperasionalkan semua tujuan pendidikan matematika dari tingkatan rendah, sedang, maupun tinggi.
d) Kualitas asesmen matematika tidaklah ditentukan oleh tujuan pencapaian nilai. Dalam keadaan ini, tujuan tes itu sendiri dan mekanisme tes harus disederhanakan dengan menyediakan kepada siswa tes-tes yang kita benar-benar dapat mengetahui apakah merekamemahami soal tersebut.
e) Alat-alat atau perangkat asesmen harus praktis, memungkinkan dapat diterapkan di suasana sekolah, dan kemungkinan dapat diterima di luar akal (De Lange dalam Supinah 2008:25)

2) Pemberian Nilai
Dalam pembelajaran dengan pendekatan RME proses dan hasil pembelajaran merupakan hal yang penting. Cara-cara pemberian nilai pada soal tergantung dari tipe pertanyaan-pertanyaan masing-masing soal. Banyak pertanyaan-pertanyaan menuntut para siswa untuk menerangkan alasan atau kebenaran jawaban mereka. Untuk pertanyaan-pertanyaan ini, memperhatikan alasan para siswa menyelesaikan soal dengan baik untuk digunakan sebagai kebenaran dari jawaban. Secara keseluruhan rencana pemberian nilai dapat digunakan untuk menentukan nilai seluruh tugas yang diberikan. Sebagai contoh, setelah memeriksa kembali pekerjaan para siswa, Anda mungkin menentukan kata-kata kunci sebagai awal,
pengembangan, terampil atau memberi keterangan terhadap matematika mereka menggambarkan pemecahan masalah, penalaran, dan komunikasi. PMRI dapat menggunakan sistem pemberian nilai seperti yang dilakukan RME dengan penyempurnaan- penyempurnaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
h. Refleksi dalam RME
Dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, interaksi sebagai salah satu prinsip utama juga merupakan bagian utama yang turut mendorong terbentuknya refleksi. Interaksi yang berlangsung dengan baik, akan melahirkan suatu learning community yang memberikan peluang bagi berlangsungnya pembelajaran yang mampu meningkatkan level pengetahuan siswa. Refleksi merupakan suatu upaya, atau suatu aktivitas memberi peluang pada individu untuk mengungkapkan tentang apa yang sudah dan sedang dikerjakan.
Apakah yang dikerjakan itu sesuai dengan apa yang dipikirkan? Menurut C-Stars University of Washington yang dikutip Sabandar (dalam Supinah, 2008:23) mengemukakan bahwa refleksi merupakan cerminan dari: bagaimana kita berpikir tentang apa yang telah kita lakukan, melakukan review serta merespon terhadap peristiwa tertentu, aktivitas tertentu serta pengalaman, mencatat apa yang telah kita pelajari termasuk ide-ide baru maupun apa yang kita rasakan. Refleksi dapat muncul dalam bentuk jurnal, diskusi, serta karya seni.

B. Materi Pembelajaran
1. Fungsi
a. Pengertian Fungsi
Fungsi atau pemetaan adalah relasi khusus yang memasangkan setiap anggota suatu himpunan (daerah asal/domain) dengan tepat satu ke anggota suatu himpunan yang lain (daerah kawan/kodomain) Agus, 2007:33).
b. Syarat – syarat fungsi
1) Ada dua himpunan (domain dan kodomain)
2) Mempunyai relasi yang memasangkan anggota domain tepat satu ke anggota kodomain.
3) Memiliku daerah hasil / range. (Tim Penyusun MGMP Matematika SMP/MTs Kabupaten Wonogiri, 2011:18)
c. Merumuskan fungsi
1) Notasi fungsi
f : x → ax + b
keterangan :
f : nama fungsi
x : anggota domain
ax + b : bayangan dari x (Adinawan, 2008:25)
2) Rumus fungsi
f (x) = ax + b
keterangan :
f (x) : bayangan dari x
ax + b : hasil atau nilai fungsi f (Adinawan, 2008:26)
3) Vareabel bebas dan vareabel tak bebas (bergantung)
f (x) = ax + b
keterangan :
f (x) : vareabel tak bebas karena merupakan bayangan dari variabel bebas
ax + b : variabel bebas

d. Menghitung nilai fungsi, menyusun tabel fungsi, diagram berurutan, membuat diagram panah dan koordinat.
1) Menghitung nilai fungsi dengan notasi fungsi dan rumus fungsi
Misal :
D = { 1, 2, 3, 4} D = domain
K = {2, 3, 4, 6, 8, 9, 10} K = kodomain
R = {2, 4, 6, 8} R = range
Relasi = setengah dari
Jawab :
Setengah dari K sama dengan 2 kalinga D
Jadi dapat dirumuskan f (x) = 2 x
f : x → 2 x
f : 1 → 2 . 1 = 2 f : 3 → 2 . 3 = 6
f : 2 → 2 . 2 = 4 f : 4 → 2 . 4 = 8
f (x) = 2x
f (1) = 2.1 =2 f (3) = 2.3 =6
f (2) = 2.2 =4 f (4) = 2.4 =8

2) Menyusun tabel fungsi dan pasangan berurutan
x (Anggota D) 1 2 3 4
2 x (relasi rungsi) 2 4 6 8
Pasangan berurutan (1,2) (2,4) (3,6) (4,8)




3) Diagram / koordinat kartesius







e. Banyak pemetaan yang mungkin
Jika n(P) = x dan n(Q) = y, maka berlaku ketentuan sebagai berikut :
1) Banyaknya pemetaan yang mungkin terjadi dari P ke Q = yx
2) Banyaknya pemetaan yang mungkin terjadi dari Q ke P =xy
f. Korespondensi satu – satu
Syarat :
1) n(D) = n(K)
2) Banyaknya korespondensi satu – satu adalah n!

2. Persamaan Garis Lurus
a. Pengertian persamaan garis lurus
Persamaan garis lurus adalah persamaan matematika yang jika digambarkan dalam bidang koordinat kartesius akan membentuk sebuah garis lurus (Agus, 2007:63).

b. Koordinat kartesius
1) Menggambar titik
2) Menggambar garis
c. Menggambar persamaan garis lurus
d. Pengertian Gradien
Gradien adalah tingkat kemiringan garis (Agus, 2007:44).
1) Menghitung gradien pada persamaan garis y = mx
2) Menghitung gradien pada persamaan garis y = mx + c
3) Menghitung gradien pada persamaan garis ax + bx + c = 0
4) Menghitung gradien yang melalui dua titik
e. Sifat – sifat gradien
1) Gradien garis yang sejajar dengan sumbu- x
Nilai gradiennya nol (0)
2) Gradien garis yang sejajar dengan sumbu- y
Tidak memiliki gradien
3) Gradien dua garis yang sejajar
m1 = m2
4) Gradien dua garis yang tegak lurus
m1 x m2 = -1
f. Menentukan persamaan garis lurus
1) Menentukan persamaan garis dari gradien dan titik koordinat
2) Menentukan persamaan garis yang melalui dua titik
3) Menentukan koordinat titik potong dari dua garis
a) Cara grafik
b) Cara subtitusi
4) Aplikasi persamaan garis lurus

C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran dengan pendekatan RME merupakan pengajaran yang bertitik tolak dari hal – hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan ketrampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inveting’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan pembelajaran RME ini peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator dan elevator, sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan ‘reasoning-nya’, melatih nuansa terbuka dengan menghargai pendapat orang lain.
Pendekatan RME merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Melalui matematisasi horizontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Seanjutnya, siswa diberi kesempatan menerapkan konsep-kosep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Dengan kata lain pembelajaran RME mengarahkan siswa pada belajar dengan bermakna.
Kebermaknaan yang timbul sebagai akibat pembelajaran RME akan memberi peluang kepada siswa mengembangkan potensi dan kemampuan berpikir alternatif, mengembangkan cara penyelesaian berbeda terhadap suatu permasalahan, memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman sehari-hari serta saling hormat menghormati dan menumbuhkan konsep diri yang kesemuanya itu mengarah kepada peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan setiap soal matematika bahkan dalam aplikasinya dengan kehidupan sehari-hari atau bidang lainnya.
Soal-soal matematika yang digunakan sebagai gambaran kehidupan sehari-hari atau aplikasinya dalam bidang lain ini tertuang dalam bentuk-bentuk soal cerita atau masalah kontekstual. Soal yang disusun dalam bentuk kalimat verbal tersebut memungkinkan siswa menggunakan daya imajinasi dan kreativitasnya serta ide dan nalarnya untuk mengemukkakan berbagai alternatif pemecahan soal-soal tersebut. Jika siswa dibina dengan membiasakannya menyelesaikan soal-soal seperti ini, di mana siswa merasakan manfaat matematika dalam kehidupannya sehari-hari, maka tentu kemampan nalar, ide dan kreativitasnya dalam pembelajaran akan meningkat. Meningkatnya aktifitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil yang diperoleh siswa berupa perubahan kemampuan matematika siswa sebagai akibat dari proses interaksi siswa dengan lingkungannya ini disebut hasil belajar matematika siswa. Artinya, semakin baik pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik akan semakin meningkatkan hasil belajar matematika siswa
Kerangka berpikir tersebut dapat disajikan dengan gambar sebagai berikut.



















Gambar 2.2. Kerangka Berpikir

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir diatas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan pendekatan RME dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo tahun pelajaran 2011/2012.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Seting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dirancang untuk 6 bulan dari bulan Juli – Desember 2011 dengan persiapan penelitian pada bulan Juli–Agustus, pelaksanaan penelitian pada bulan September – Oktober dan penyusunan laporan pada bulan Nopember – Desember 2011.
3. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo dengan jumlah 32 siswa dan memiliki rata-rata nilai tes pada Kompetensi Dasar sebelumnya mata pelajaran matematika 73,5 dengan ketuntasan belajar 46,9% (batas ketuntasan minimal 73,0).

B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Teknik Observasi
Observasi dilakukan secara langsung kepada siswa dan aktivitas belajar kelompok yang ada. Alat yang digunakan dalam obsevasi adalah lembar observasi (chek list) yaitu suatu daftar yang berisi nama subjek dan faktor-faktor yang hendak diteliti.
2. Teknik Dokumentasi
Dilakukan terhadap hasil aktivitas belajar siswa dalam kelompok dan untuk memperoleh data yang bersifat dokumentatif.
3. Metode Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara atau aturan – aturan yang sudah di tentukan (Arikunto, 2002:53). Tes dikenakan pada seluruh siswa secara tertulis dan individual, digunakan untuk mengukur prestasi belajar dan peningkatannya dari kondisi awal persiklus.

C. Teknik Pengolahan Data
Untuk mengolah data menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan mendeskripsikan data hasil tes siswa dalam bentuk tabel dari nilai rata-rata dan prosentase ketuntasan belajar seluruh siswa. Untuk nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa, disajikan dalam diagram batang sehingga mudah dalam mengamati perubahan prestasi belajar persiklus.


D. Indikator Keberhasilan
Pembelajaran dengan pendekatan RME ini dikatakan berhasil jika ada peningkatan prestasi belajar yang ditunjukkan dengan, nilai rata – rata siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Giriwoyo mencapai 75,0 serta 60,0% siswa yang dapat mencapai ketuntasan.

E. Prosedur Penelitian
Model penelitian yang dilakukan adalah model penelitian tindakan kelas sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral dengan menggunakan siklus secara berkelanjutan dan direncanakan dalam beberapa siklus. Menurut Kurt Lewin (dalam Aqib, 2007:21) setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting).
Langkah-langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.








Gambar 3.1. Langkah-langkah Tindakan
Tahapan-tahapan tersebut di atas yang membentuk satu siklus dan dapat dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan urut-urutan planning, acting, observing dan reflecting.
Adapun pada masing-masing tahapan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Siklus
a. Perencanaan (Planning)
Meliputi : merencanakan materi kegiatan pembelajaran, merencanakan kegiatan pembelajaran yang akan diterapkan, menyusun lembar kerja siswa, menyusun lembar observasi, menyusun format evaluasi.
b. Tindakan (Acting)
Meliputi : melakukan kegiatan pembelajaran, memberi bimbingan dalam pada siswa, melaksanakan tes prestasi belajar.
c. Pengamatan (Observing)
Meliputi : mengamati pelaksanaan kegiatan pembelajaran, mencatat hasil observasi sebagai bahan pembuatan refleksi.
d. Refleksi (Reflecting)
Meliputi : melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah diberikan, diskusi antara peneliti dengan guru pembimbing tentang kegiatan pembelajaran, lembar kerja siswa dan lain-lain, memberikan masukan-masukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar, evaluasi tindakan dan menyimpulkan pelaksanaan siklus.
Read More..

Rabu, 27 Juli 2011

Jadwal Imsyakiyah Ramadhan 1432H/2011M

Read More..

Rabu, 27 Oktober 2010

PANDUAN BERMAIN RUBIK 3 X 3

Rubik adalah sebuah permainan anak kecil yang kini sedang ngetrend dikalangan masyarakat. Ya, walaupun mainan ini seperti permainan anak kecil, namun justru anak-anak kecil tidak dapat menyelesaikannya dengan mudah. Karena permainan ini memutar logika dan otak anda. Siapapun pasti dibuat pusing oleh rubik ini, termasuk saya.
Sebelum anda memulai, ada baiknya anda mengetahui istilah-istilah yang akan digunakan dalam rumus kubik nanti.


Nah, selanjutnya anda tinggal mengikuti step yang telah saya buat di bawah ini.
Step 1
- Membuat cross (+) putih dengan center kuning.
- Mencocokan warna di bawah tanda cross kemudian memutarnya (F2) sehingga cross putih sekarang bercenter putih.
Step 2
- Membuat bagian bawah berwarna putih semua sekaligus “T”
– Rumus : R U R’
- Mencocokkan 2 baris warna di bagian bawah.
–Rumus : U R U’ R’ U’ F’ U F
Step 3
- Membuat cross kuning bercenter kuning.
(i) Jika ada bagian kuning yang membentuk huruf L, maka letakkan L tersebut di pojok kanan bawah (terbalik tentunya)
– Rumus : f R U R’ U’ f’
(ii) Jika bagian kuning membentuk garis (3 warna sama sebaris) dengan melewati center, maka letakkan garis dalam posisi horisontal.
– Rumus : F R U R’ U’ F’
(iii) Jika tidak membentuk apa-apa (hanya ada 1 titik kuning di center).
– Rumus : F R U R’ U’ F’ f R U R’ U’ f’
Step 4
- Membuat bentuk “ikan” terlebih dahulu.
– Cari warna kuning pada bagian F pojok kanan atas.
– Rumus : R U R’ U R U2 R’
- Membuat bagian atas menjadi seluruhnya berwarna kuning.
– Rumus : R U R’ U R U2 R’
Step 5
- Membuat kedua ujung atas F menjadi sama warna.
(i) Jika sudah ada sisi yang sama, letakkan di kiri.
(ii) Jika tidak lanjutkan saja.
– Rumus : R U2 R’ U’ R U2 L’ U R’ U’ L
- Memindahkan bagian tengah atas F sehingga seluruh sisi menjadi sama warna.
(i) Jika bagian yang akan dipindahkan berlawanan arah dengan jarum jam, maka gunakan U’ dalam rumus berikut.
(ii) Jika bagian yang akan dipindahkan searah dengan jarum jam, maka gunakan U dalam rumus berikut.
– Rumus : F2 (U/U’) L R’ F2 R L’ (U/U’) F2 


GIMANA? JELAS...!!!


(www.giswa.co.cc) Read More..

Selasa, 10 Agustus 2010

Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab

Bismillahirahmaanirrahiim.

Alhamdulillah. Wa sholatu’alaa rasulillah wa’alaa ‘alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan illaa yaumiddin. Amma ba’du.

Sesungguhnya perkara yang seringkali ada di bulan Ramadhan dan Syawwal setiap tahun dan berulang adalah menentukan awal bulan. Baik itu tanggal 1 Ramadhan ataupun tanggal 1 Syawwal. Allah dan Rasul-Nya telah mencontohkan berkali-kali tentang hal ini yaitu dengan melihat bulan bukan dengan hisab (menghitung dengan rumus tertentu). Kita akan bahas satu per satu.

Dalil Disyari’atkannya Melihat Hilal

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا

“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya. Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari. Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2116, Ahmad 4/321, dan Ad-Daruquthni 3/120 no. 2193; lafadh ini milik An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 909).

Apabila hilal telah terlihat yang menandakan tanda mulainya Bulan Ramadlan (atau bulan-bulan yang lainnya), maka disunnahkan membaca doa :

اَللهُ أَكْـبَرُ، اَللّهُمَّ أَهِلَّـهُ عَلَيْـنَا بِاْلأَمْـنِ وَاْلإِيْمـَانِ، وَالسَّلامَـةِ وَاْلإِسْلامِ، وَالتَّـوْفِيْـقِ لِمَا تُحِـبُّ وَتَـرْضَـى، رَبُّنـَا وَرَبُّكَ اللهُ

[Alloohu akbar. Alloohumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan. Was-salaamati wal-islaami, wat-taufiiqi limaa tuhibbu wa tardloo. Robbunaa wa robbukallooh]

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Rabb kami dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah” (HR. At-Tirmidzi no. 3451, Ad-Daarimi no. 1730, dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh-Dham’an hal. 589. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/423).

Pembahasan Hisab

Bagaimana dengan hisab, sebagian besar orang-orang menggunakan dalil hadits nomor 1907 yang diriwayatkan oleh Bukhari tersebut. Namun hal ini sangat tidaklah tepat. Sebab menggunakan dalil hadits yang mana hadits tersebut digunakan untuk dalil Rukyat adalah sebuah kesalahan. Ada beberapa faktor yang dianggap menyelisihi sunnah, diantaranya adalah:

1. Dengan metode hisab, seseorang bisa saja memperkirakan dan menghitung tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawwal jauh sebelum mereka menemui Ramadhan atau Syawwal. Bahkan dengan metode hisab seseorang bisa saja menghitung tanggal 1 Ramadhan 20 tahun ke depan.

2. Menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal telah diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Semoderen apapun perhitungan hisab, seakurat apapun, tapi syari’at tetaplah syari’at. Dan yang benar adalah harus mengikuti syari’at yang di bawa oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam.

3. Perhitungan hisab sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tahun hijriyah ada, hisab sudah ada sejak dulu. Karena itulah dulu para petani ataupun para nelayan faham kapan mereka panen, dan juga tahu kapan terjadi gerhana. Bahkan pada peradaban Mesir sudah ditemukan cara menghitung hisab, namun Allah dan Rasul-Nya mempunyai sunnah sendiri. Dan mengikuti sunnah itu lebih baik.

4. Menganggap hisab lebih baik daripada melihat hilal, maka seseorang akan terjerumus kepada kesalahan, yaitu meremehkan syari’at yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Dan sungguh aku nasehatkan kepada kalian untuk berhati-hati dalam masalah ini.

Hari Raya Mengikuti Pemerintah ataukah Menentukan waktu Sendiri?

Ada sebuah kaidah yang disampaikan oleh Syaikh Al Albani:

“Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mudah ini (yaitu : berpuasa dan berhari raya ‘Iedul-Fithri bersama masyarakat/orang banyak – tidak menyendiri) yang diantara tujuan-tujuannya adalah menyatukan umat dan menyamakan barisan-barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dapat mencerai-beraikan persatuan mereka dari pemikiran-pemikiran individualistis, sehingga syari’at tidaklah memihak kepada pemikiran seseorang – walaupun benar dari sudut pandang dirinya – dalam peribadatan yang bersifat jama’i seperti puasa, hari raya, dan shalat berjama’ah. Tidaklah Anda pernah melihat bahwa para shahabat radliyallaahu ‘anhum, mereka sebagiannya shalat di belakang lainnya dalam keadaan di antara mereka ada yang menilai bahwa menyentuh wanita, kemaluan, atau keluarnya darah termasuk pembatal-pembatal wudlu. Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna di waktu safar, dan sebagian lagi ada yang mengqasharnya ? Kendatipun demikian, perselisihan mereka dengan yang lainnya tidaklah menjadi penghalang bagi mereka untuk berkumpul (bersatu) di dalam masalah shalat di belakang imam yang tunggal, sehingga mereka tidak berpecah karenanya. Hal itu karena pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek dari sekedar perbedaan sebagian pendapat. Bahkan sampai pada tingkatan dimana sebagian mereka tidak menghiraukan suatu pendapat yang menyelisihi pendapat imam besar di lingkup yang lebih besar seperti ketika di Mina, hingga mendorongnya untuk meninggalkan pendapat pribadi secara mutlak dalam lingkup tersebut, demi menjauhi akibat buruk yang akan ditimbulkan karena beramal dari hasil pemikirannya (yang menyelisihi imam)”. Maka diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 (sebuah contoh yang sangat baik dalam masalah ini) :

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا , فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين , و مع أبي بكر ركعتين , و مع عمر ركعتين , و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها , ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين , ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ! قال : الخلاف شر .

Bahwasannya ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) Akan tetapi kemudian Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”. Maka beliau menjawab : “Perselisihan itu jelek”

[selesai - Lihat selengkapnya dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 224].

Sungguh pada sebagian masyarakat hal ini masih ada, yaitu ada yang mendahului, ada yang mengakhiri. Padahal yang benar adalah kita harus mengikuti pemerintah yaitu bersama-sama dengan umat Islam yang lainnya untuk berhari raya bersama-sama. Dan orang yang tidak melakukannya maka sesungguhnya mereka adalah orang yang ingin mencerai-beraikan barisan kaum muslimin.

Bagaimana Kalau Pemerintah Memakai Hisab?

Kita harus mengutamakan persatuan umat, yaitu dengan ikut merayakan Iedul Fitri atau Iedul Adha bersama-sama, apapun metode yang mereka gunakan. Walaupun begitu kita tetap yakin dan beriman bahwa yang benar adalah dengan menggunakan Rukyatul Hilal.

Penutup

Dalil-dalil tentang rukyatul Hilal sudah jelas, bahkan manusia harus mengikuti dalil daripada hawa nafsu mereka. Ini adalah persoalan iman, persoalan sunnah yang dibawa oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Satu pertanyaan yang mengganjal adalah, “Kalau memang hisab diperbolehkan, kenapa rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengajarkan do’a ketika melihat hilal? Kenapa tidak diajarkan do’a menghitung hisab?” Maka sudah jelas ini adalah syari’at dari Allah dan bukan buatan semata.

Untuk hisab maka yang paling cocok adalah digunakan untuk menghitung waktu sholat atau terbit matahari. Namun ini bulan Qomariyah yang artinya menentukan hari lewat beredarnya bulan bukan matahari. Maka dari itulah menggunakan rukyatul Hilal adalah satu-satunya cara menentukan tanggal 1 tiap bulannya.
by Abu Aisyah Al Kediri (alatsari.wordpress.com)
Read More..

Senin, 09 Agustus 2010

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan di bulan Ramadhan

Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin.

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Menetapkan Awal Ramadhan dengan Hisab

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang buta huruf. Kami tidak memakai kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula memakai hisab (dalam penetapan bulan). Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Bazizah mengatakan,”Madzhab ini (yang menetapkan awal ramadhan dengan hisab) adalah madzhab bathil dan syari’at ini telah melarang mendalami ilmu nujum (hisab) karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) atau persangkaan kuat. Maka seandainya suatu perkara (misalnya penentuan awal ramadhan, pen) hanya dikaitkan dengan ilmu hisab ini maka agama ini akan menjadi sempit karena tidak ada yang menguasai ilmu hisab ini kecuali sedikit sekali.” (Fathul Baari, 6/156)

4. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

5. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin…”

Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

6. Membangunkan “Sahur … Sahur”

Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahu kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan “sahur … sahur ….” baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.” (Lihat pembahasan at Tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336)

7. Pensyariatan Waktu Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ

“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah yang melintang.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata, “Berapa lama jarak antara iqomah dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata, “Sekitar 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan iqomah? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit)

8. Do’a Ketika Berbuka “Allahumma Laka Shumtu wa Bika Aamantu…”

Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan amalan ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy).

Adapun do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

9. Dzikir Jama’ah Dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189)

10. “Ash Sholaatul Jaami’ah…” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih

Ulama-ulama Hambali berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah…” Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9634, Asy Syamilah)

11. Bubar Terlebih Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

12. Perayaan Nuzulul Qur’an

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)

13. Membayar Zakat Fithri dengan Uang

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)

***

Referensi :
(muslim.or.id)
Read More..

Khithbah

Oleh : Titin Erliyanti, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia)
Di..kedalaman hatiku, tersembunyi harapan yang suci..
Ta..k, perlu engkau menyangsikan..
Le..wat.. kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu,
tak perlu dengan.. kata-kata
Sungguh..hatiku kelu tuk’ mengungkapkan perasaanku..
Namun, penantianmu pada diriku, jangan salahkan..
Kalau memang..kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang..
Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi..
kini belumlah saatnya aku membalas cintamu… nantikan ku..di batas.. waktu..
(Lirik dalam nasyid ‘Nantikanku di batas waktu’ oleh:Ad Coustic)
SyariahPublications.Com — Manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai makhluk yang paling mulia, ia bukanlah sesosok makhluk yang sekedar memiliki jasad/organisme hidup, sehingga kehidupan yang dijalaninya pun bukan sekedar untuk tujuan memperoleh makan, tumbuh, berkembang-biak, lalu mati. Manusia diciptakan ke alam dunia ini disertai pula dengan berbagai potensi kehidupan yang diberikan oleh-Nya. Berbagai potensi kehidupan tersebut harus merupakan sesuatu yang disadari/difikirkan oleh manusia. Diantara potensi kehidupan tersebut adalah berupa naluri-naluri (gharaizh) yang diantaranya pula adalah naluri untuk melestarikan keturunan ataupun tertarik kepada lawan jenis (gharizatu nawu). Naluri ini merupakan dorongan yang muncul pada diri manusia ketika adanya stimulan dari luar. Sebagai contoh, suatu saat seorang ikhwan pernah merasakan perasaan yang ‘berbunga-bunga tidak karuan’ ketika di suatu tempat bertemu dengan seorang akhwat yang menurut penilaiannya, orang tersebut adalah sosok yang ‘special’ sehingga setiap kali berjumpa, memikirkan atau bahkan hanya sekedar mendengar namanya saja, tiba-tiba jantung ini bisa berdebar cepat dan kedua bibirpun akan menggeser menyimpul mesra. Kondisi ini tentunya juga dapat terjadi sebaliknya antara seorang akhwat terhadap seorang ikhwan.
Islam memandang ini sebagai hal yang fitrah (manusiawi) dan bukan hal yang tabu ataupun terlarang. Oleh karenanya dalam rangka menempatkan manusia agar tetap pada derajatnya sebagai makhluk yang mulia, maka Allah Swt menurunkan seperangkat aturan kehidupan yang harus diambil dan dijalankan oleh umat manusia yaitu Syari’at islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw, termasuk di dalamnya tercakup aturan untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Diantaranya adalah pengaturan mengenai khitbah (meminang) sebagai aktivitas syar’i yang harus dipilih oleh seorang muslim ketika dirinya terdiagnosa telah mengidap gejala-gejala terserang ‘virus merah jambu’ apalagi jika sudah sampai pada stadium yang akut (memangnya penyakit kanker.. ?).
I. Pengertian Khithbah
Dalam merencanakan kehidupan berumah tangga, diantara langkah yang harus ditempuh oleh seorang ikhwan adalah menetapkan seorang akhwat yang diinginkan untuk menjadi calon istrinya. Secara syar’i ikhwan tersebut menjalaninya dengan melakukan khithbah (peminangan) kepada akhwat yang dikehendakinya. Adapun salah satu tujuan disyari’atkannya khithbah adalah agar masing-masing pihak dapat mengetahui calon pendamping hidupnya (Syamsudin Ramdhan, 2004:49).
Sedangkan menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaily (dalam MR. Kurnia, 2005:19) menjelaskan yang dimaksud Khithbah adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya (walinya). Selain itu Sayid Sabiq (ibid) juga menyatakan bahwa yang dikatakan seseorang sedang mengkhitbah seorang perempuan berarti ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk dinikahi dengan cara-cara (wasilah) yang ma’ruf.
Islam telah menganjurkan dan bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk melangsungkan pernikahan (An-Nabhaniy, 2001:146). Berkaitan dengan anjuran untuk menikah,Allah Swt, berfirman :
(Nikahilah oleh kalian perempuan-perempuan yang kalian sukai (QS.An-Nisa [4]:3)
Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah Saw telah mengingatkan:
‘Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah sanggup memikul beban. Hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia shaum karena hal itu dapat menjadi perisai’.
Diantara peristiwa khithbah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw, adalah yang dilakukan oleh sahabat beliau, Abdurrahman Bin ‘Auf yang mengkhithbah Ummu Hakim Binti Qarizh. Hadits riwayat Bukhari menjelaskannya sebagai berikut:

‘Abdurrahman Bin ‘Auf berkata kepada Ummu Hakim Binti Qarizh:”Maukah kamu menyerahkan urusanmu kepadaku?” Ia menjawab ”Baiklah!”, maka Ia (Abdurrahman Bin ‘Auf) berkata: “Kalau begitu, baiklah kamu saya nikahi.” (HR.Bukhari)
Abdurrahman Bin ‘Auf dan Ummu Hakim keduanya merupakan sahabat Rasulullah Saw. Ketika itu Ummu Hakim statusnya menjanda karena suaminya telah gugur dalam medan jihad fii sabilillah, kemudian Abdurrahman Bin Auf (yang masih sepupunya) datang kepadanya secara langsung untuk mengkhitbah sekaligusmenikahinya.
Menurut Muhammad Thalib (2002:25) kejadian ini menunjukan seorang laki-laki boleh meminang secara langsung calon istrinya tanpa didampingi oleh orang tua atau walinya dan Rasulullah Saw tidak menegur atau menyalahkan Abdurrahman Bin ‘Auf atas kejadian ini.
Selain itu, seorang wanita juga diperbolehkan untuk meminta seorang laki-laki agar menjadi suaminya. Akan tetapi ia tidak boleh berkhalwat atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at (Syamsudin Ramdhan, 2004:56). Kebolehan hal ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut:
‘Pernah ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Saw, seraya berkata ‘Wahai Rasulullah aku datang untuk menyerahkan diriku kepada Engkau’. Rasulullah Saw lalu melihatnya dengan menaikan dan menetapkan pandangannya. Ketika melihat bahwa Rasulullah tidak memberikan keputusannya, maka wanita itupun tertunduk” (HR.Bukhari)
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat difahami bahwa khithbah merupakan jalan untuk mengungkapkan maksud seorang ikhwan/akhwat kepada lawan jenisnya terkait dengan tujuan membangun sebuah kehidupan berumah tangga, baik dilakukan secara langsung (kepada calon) ataupun melalui perwakilan pihak lain.
II. Proses Khitbah
Dalam beberapa dalil di atas telah diungkapkan tentang bagaimana proses khithbah dapat berlangsung, yaitu diantaranya khitbah dapat dilakukan sendiri oleh seorang ikhwan langsung kepada akhwatnya ataupun dengan mewakilkan, kemudian bisa juga dilakukan oleh seorang ikhwan kepada keluarga atau wali pihak akhwat. Selain itu ada beberapa hal yang juga perlu difahami ketika melakukan khitbah, antara lain:
a. Kebolehan Melihat Akhwat Yang Dikhithbah
Syamsudin Ramdhan (2004:54) mengungkapkan bahwa sebagian ulama berpendapat, diperbolehkan bagi pelamar untuk melihat wanita yang dilamarnya, tetapi ia tidak boleh melihat auratnya. Sebagaimana Jabir menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
‘Jika salah seorang di antara kalian meminang seorang perempuan, sekiranya ia dapat melihat sesuatu darinya yang mampu menambah keinginan untuk menikahinya, maka hendaklah ia melihatnya. (HR. Abu Dawud dan Hakim).
Dibolehkannya melihat perempuan yang dikhitbah ini sebenarnya membawa banyak hikmah, diantaranya adalah dengan melihatnya akan lebih memantapkan hati untuk menikahinya. Kebolehan melihat ini adalah kekhususan pada saat mengkhithbah.
Sebagian ulama lagi membolehkan untuk melihat bukan hanya wajah dan telapak tangan, melainkan lebih dari itu karena wajah dan telapak tangan merupakan anggota badan perempuan yang terlihat sehari-hari. Sehingga perintah untuk melihat, dalam hadits tersebut tentu yang dimaksud bukan hanya wajah dan telapak tangan (MR.Kurnia, 2005:23)
b. Tidak Boleh Mengkhithbah Akhwat Yang Masih Dikhithbah Seorang Ikhwan
Seorang ikhwan tidak boleh mengkhithbah seorang akhwat yang masih berada dalam khithbah-an ikhwan lainnya, kecuali setelah khithbah tersebut dilepaskan oleh ikhwan yang pertama atau karena alasan syar’i lainnya seperti meninggal dunia, dll (Syamsudin Ramdhan, 2004:55). Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah Saw:
Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Tidak halal seorang mukmin menawar diatas tawaran saudaranya dan meminang (seorang wanita) diatas pinangan saudaranya hingga nyata (bahwa pinangan itu) sudah ditinggalkannya (HR. Muslim dan Ahmad)
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Saw bersabda:
Tidak boleh seorang pria melamar seorang wanita yang telah dilamar oleh saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkannya (HR. Abu Hurayrah)
c. Seorang Akhwat Berhak untuk Menerima ataupun Menolak Khithbah
An-Nabhaniy (2001:161) mengungkapkan bahwa jika seorang wanita telah dilamar, maka dirinyalah yang berhak untuk menerima ataupun menolak calon suaminya, bukan hak salah seorang walinya ataupun orang-orang yang akan mengawinkannya tanpa seizin wanita yang bersangkutan, dan dia pun tidak boleh dihalang-halangi untuk menikah.
Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda:

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang gadis harus dimintai izinnya, dan izinnya adalah diamnya (HR.Ibnu Abbas)
Adapun Abu Hurayrah menuturkan hadits Rasulullah Saw sebagai berikut:
Rasulullah Saw bersabda,’Seorang janda tidak dinikahi kecuali setelah dilamar, sedangkan seorang gadis tidak dinikahi kecuali setelah diminta izinnya’ Para sahabat lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya?’ Beliau menjawab,’Izinnya adalah diamnya’.
Hadits-hadits di atas seluruhnya menunjukan dengan jelas bahwa seorang wanita yang tidak dimintai izinya ketika hendak dinikahkan (oleh orang tua/walinya) maka pernikahannya dianggap tidak sempurna. Jika ia menolak pernikahannya itu atau menikah secara terpaksa, berarti akad pernikahannya rusak, kecuali jika ia berbalik pikiran atau ridha.
d. Tidak Menandai Khithbah Dengan Tukar Cincin
Aktivitas tukar cincin adalah saling memberikan cincin (untuk dipakai) antara calon suami dan calon istri sebagai pertanda adanya ikatan pertunangan di antara mereka. Aktivitas ini biasanya dianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat.
Menurut Muhammad Thalib (2002:48) bertukar cincin bukan merupakan cara islam melainkan cara bangsa Roma (eropa) yang mendapat pengesahan dari gereja. Jadi, saling tukar cincin pada mulanya bukan merupakan cara umat kristiani pula, melainkan warisan kebudayaan bangsa Romawi. Berkaitan dengan hal ini, maka Rasulullah Saw melarang kaum muslimin untuk meniru-niru kebiasaan kaum kafir. Ia bersabda:
Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Dawud)
e. Khitbah Bukanlah Setengah Pernikahan
Kekeliruan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang khithbah sering menggiring mereka pada anggapan bahwa pasangan laki-laki dan perempuan yang telah melangsungkan peminangan, maka ia boleh melakukan sebagian aktivitas seperti suami-istri asal tidak kelewat batas. Misalnya, jalan berduaan, ngobrol berduaan, dll.
Menurut MR Kurnia (2005:25) khitbah bukanlah pernikahan, sehingga akad khitbah bukanlah akad pernikahan. Khithbah sebenarnya hanya merupakan janji kedua pihak untuk menikah pada waktu yang disepakati. Dengan demikian setelah akad khithbah dilangsungkan, maka status bagi keduanya adalah tetap orang asing (bukan mahram) antara satu dengan lainnya.
Kendati demikian, dalam menjalankan proses khitbah diantara keduanya boleh saling melakukan kebaikan seperti saling memberikan hadiah, menanyakan kepribadian masing-masing (karakter, kesukaan), cara pandang, sikap, dsb. Hal ini karena, khithbah memang merupakan sarana untuk dapat saling mengenal lebih jauh satu sama lain dengan cara yang ma’ruf.
Berkaitan dengan pemberian hadiah, Rasulullah Saw bersabda:

‘Saling memberikan hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai’ (HR.Abu Hurayrah)
Selain itu, Allah Swt juga telah memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab [33]:70)
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, (QS. An-Nur [24]:30-31)
III. Kurun Waktu Dalam Menempuh Khithbah
Kurun waktu khithbah adalah rentang waktu antara diterimanya khithbah (akad khithbah) hingga dilangsungkannya pernikahan (akad nikah) (Muhamad Thalib, 2002:69)
Bagi seorang ikhwan yang telah mengkhithbah akhwat, berapa lamakah rentang waktu yang harus ia lewati hingga ia dapat melangsungkan pernikahan dengannya?
Berdasarkan peristiwa khithbah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw yaitu antara Abdurrahman Bin ‘Auf terhadap Ummu Hakim Binti Qarizh, dimana Abdurahman Bin ‘Auf telah melakukan pengkhitbahan secara langsung kepada Ummu Hakim kemudian dilangsungkan pula pernikahannya pada waktu itu. Terhadap kejadian ini Rasulullah tidak menyalahkan perbuatan Abdurahman Bin ‘Auf, yang berarti pula hal ini menunjukan persetujuan Beliau Saw. (ibid).
Jadi, sebenarnya tidak ada batasan waktu yang pasti untuk melangsungkan pernikahan pasca dilakukannya khithbah, apakah 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan satu tahun setelahnya. Hanya saja berkaitan dengan hal ini, syara’ juga menganjurkan untuk menyegerakan suatu perbuatan kebaikan apabila telah diniatkan. Rasulullah Saw telah mengingatkan:
Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (saat itu) di pagi harinya seseorang beriman tetapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamannya dengan harta dunia
(HR.Muslim dan Abu Hurayrah)
Melaksanakan pernikahan dengan segera apabila segala sesuatunya telah disiapkan dan dimantapkan (terutama niat dan ilmu, selain juga tidak mengabaikan kebutuhan materi) merupakan hal yang dianjurkan.
Firman Allah Swt:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian*] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur[24]:32)
*] Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.
Rasulullah Saw bersabda:
Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk kawin maka menikahlah (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt, yaitu Pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena hendak menjauhkan diri dari perkara haram. (HR. At-Turmudzi)
Dengan demikian dalam menetapkan rentang waktu antara khithbah hingga pernikahan, tergantung pada kesiapan dan kesepakatan kedua belah pihak (dan keluarganya) sehingga kesepakatan diantara keduanyalah yang menjadi acuan untuk menetapkan waktu pelaksanaan pernikahan setelah mempertimbangkan berbagai hal dan kemampuan yang mendukung terlaksananya pernikahan tersebut.
Apabila rentang antara khithbah dengan pernikahan ternyata cukup jauh, maka harus tetap adanya upaya untuk saling menjaga diri dalam keimanan dan ketakawaan kepada Allah Swt. Karena dalam rentang ‘masa penantian’ tersebut sangat mungkin muncul godaan-godaan untuk terjerumus pada pelanggaran syari’at ataupun godaan untuk berpaling kepada seorang calon yang lain, dan sebagainya. Namun bagi seorang mukmin tentu harus mewaspadai hal ini, sehingga senantiasa diperlukan adanya upaya diantara keduanya untuk saling berkomunikasi dan mengingatkan pada ketakwaan, yaitu:
Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia shaum karena sesungguhnya shaum itu merupakan benteng (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak boleh sekali-kali ia menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai mahramnya, sebab nanti yang ketiganya adalah syetan (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah [9]:71)
Ataupun, juga perintah-Nya:
dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS.Al-Maidah[5]:2)
Keberlangsungan khitbah pada waktunya akan berakhir pada satu diantara dua pilihan yaitu berlangsungnya akad pernikahan atau terjadinya pembatalan khitbah. Kedua hal ini merupakan konsekuensi yang relevan dengan fungsi dan tujuan khithbah itu sendiri, sehingga jangan sampai dianggap sebagai ending of story yang harus dipaksakan. Karena pernikahan yang terpaksa hukumnya tidak sah, dan pembatalan khithbah tanpa alasan yang syar’i juga tidak diperkenankan.
IV. Pembatalan Khithbah
Dalam melangsungkan proses khithbah, terdapat banyak hal yang akan ditemukan oleh kedua belah pihak (ikhwan-akhwat) terhadap keadaan, karakter, sikap, dan sebagainya, satu sama lain. Sehingga berkaitan dengan fungsi khithbah itu sendiri yaitu sebagai gerbang menuju pernikahan yang di dalamnya terdapat aktifitas saling mengenal (ta’aruf) lebih jauh dengan cara yang ma’ruf, maka apabila ketika dalam aktifitas ta’aruf tersebut salah satu pihak menilai dan mempertimbangkan adanya ketidakcocokan antara dirinya terhadap calon pasangannya ataupun sebaliknya, ia berhak untuk membatalkan khithbah tersebut.
Pembatalan khithbah merupakan hal yang wajar, bukanlah hal yang berlebihan. Menganggap hal ini secara berlebihan merupakan perbuatan yang keliru, misal ada anggapan bahwa pembatalan khithbah terjadi karena adanya penilaian bahwa salah satu calon bagi calon yang lainnya memiliki banyak kekurangan kemudian ia pun menganggap sebagai pihak yang tidak akan pernah dapat menikah dengan orang lain nantinya (setelah diputuskan cintanya) karena saat ini pun kekurangan-kekurangan tersebut dinilai telah berimplikasi pada kegagalan khithbahnya dengan seseorang. Padahal itu hanyalah sikap skeptis yang muncul pada dirinya karena lebih terdorong oleh emosional dan kelemahan iman.
Seperti halnya dalam mengawali khithbah maka ketika akan mengakhiri khithbah dengan pembatalanpun harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf dan tidak menyalahi ketentuan syara’. Dalam membatalkan khithbah, hal yang perlu diperhatikan adalah adanya alasan-alasan syar’i yang membolehkan pembatalan tersebut terjadi. Misalnya salah satu ataupun kedua belah pihak menemukan kekurangan-kekurangan pada diri calonnya dan ia menilai kekurangan tersebut bersifat prinsip (fatal) seperti dimilikinya akhlak yang rusak (gemar bermaksiat), berpandangan hidup yang menyimpang dari mabda islam, memiliki kelainan seksual, berpenyakit menular yang membahayakan, serta alasan-alasan lain yang dinilai dapat menghambat keberlangsungan kehidupan rumah tangga nantinya apabila berbagai kekurangan tersebut ternyata sulit untuk diubah. Selain pertimbangan berbagai uzur tersebut, pembatalan khithbah juga berlaku apabila adanya qada dari Allah Swt semisal kematian yang menimpa salah satu calon ataupun keduanya sebelum dilangsungkan akad pernikahan. Selain atas dasar alasan-alasan yang syar’i, maka pembatalan khithbah tidak boleh dilakukan, karena hal itu hanya akan menyakiti satu sama lain dan merupakan ciri dari orang-orang yang munafik, karena telah menyalahi janji untuk menikahi pihak yang dikhithbahnya.
Rasulullah saw bersabda:
Sifat orang munafik itu ada tiga; apabila berkata ia berdusta, bila berjanji, ia menyalahi, dan bila dipercaya ia berkhianat. (HR. Bukhari)
Adapun berkaitan dengan sesuatu benda yang pernah diberikan sebagai hadiah/ hibah dan dilakukan sebelum pembatalan khithbah, maka sesuatu/benda tersebut tetap menjadi hak milik pihak penerima. Pihak pemberi, juga tidak boleh meminta kembali sesuatu/ benda yang pernah diberikannya tersebut.
Rasulullah Saw pernah bersabda:
Tidak halal seseorang yang telah memberikan sesuatu atau menghibahkan sesuatu, meminta kembali barangnya, kecuali pemberian ayah kepada anaknya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmizi, dan Nasa’i dari Ibnu Abbas)
Muhammad Thalib (2002:76) mengungkapkan sebagai berikut, membatalkan pinangan adalah menjadi hak masing-masing yang tadinya telah mengikat perjanjian. Terhadap orang yang menyalahi janji dalam pinangan, islam tidak menjatuhkan hukuman materiil, sekalipun perbuatan tersebut dipandang cela oleh sebagian orang.
Mahar yang telah diberikan oleh peminang (untuk pernikahan nantinya) kepada pinangannya berhak diminta kembali bila akad pernikahannya tidak jadi (karena mahar itu hanya diberikan sebagai ganti dan imbalan dalam pernikahan). Selama akad pernikahan belum terjadi, maka pihak perempuan belum mempunyai hak untuk memanfaatkan mahar tersebut sekalipun telah ia dapatkan.
Adapun berbagai pemberian dan hadiah (selain mahar) maka hukumnya berbeda dengan hukum mahar, yaitu sebagai hibah. Secara syar’i, hibah tidak boleh diminta kembali, karena merupakan suatu derma sukarela dan tidak bersifat sebagai penggantian atas sesuatu. Bila barang yang dihibahkan telah diterima dari si pemberi, maka bagi pihak penerima barang tersebut sudah menjadi kepemilikan bagi dirinya dan ia berhak untuk memanfaatkannya.
Iwan Januar (2005:4) mengungkapkan bahwa sikap terbaik ketika seorang mukmin menghadapi kenyataan ini (pembatalan khithbah) adalah berserah diri kepada Allah Swt serta hanya memohon kebaikan kepada-Nya. Rasulullah Saw, bersabda:
Menakjubkan keadaan seorang mukmin! Sebab, segala keadaannya untuknya adalah baik, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin: Jika ia mendapat nikmat maka ia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika ia menderita kesusahan ia bersabar, maka itupun baik baginya. (HR. Muslim)
Demikianlah sekilas pandangan tentang proses khitbah serta beberapa hal yang terkait di dalamnya, semoga dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada sahabat-sahabat untuk segera merealisasikan keinginan yang selama ini telah menggebu-deru, namun masih terpendam dalam seolah enggan untuk nampak kepermukaan karena terkekang oleh perasaan malu-malu dan unselfconffident. Padahal, sesungguhnya ia merupakan sesuatu yang wajar dan boleh kita lakukan dengan disertai adanya kesiapan untuk memikul apapun resikonya.
Wallahu’alam bi shawab. (www.syariahpublications.com)
Referensi:
An-Nabhani, Taqiyudin. 2001. Sistem Pergaulan Dalam Islam. Kitab Mutabanat Hizbut Tahrir. Bogor: PTI
Januar, Iwan. 2005. Bulan Madu Sepanjang Hari. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
Kurnia, MR. 2005. Memadukan Dakwah dan Keharmonisan Rumah Tangga. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
………………..2005. Menjalin Cinta Suci. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
Ramdhan, Syamsudin. 2004. Fikih Rumah Tangga. Pedoman Membangun Keluarga Bahagia..Bogor: Ide Pustaka
Thalib, Muhammad,Drs. 2002. 15 Tutuntunan Meminang Dalam Islam. Bandung: Irsyad Baitussalam

Read More..

Rabu, 04 Agustus 2010

Hukum Pernikahan karena Paksaan Orang Tua

Perbuatan Seorang Ayah Memaksa Putrinya untuk Menikah adalah Haram

Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah ditanya:

Saya memiliki saudara perempuan seayah, kemudian ayah saya menikahkannya dengan laki-laki tanpa keridhaannya dan tanpa meminta pertimbangan kepadanya, padahal dia telah berumur 21 tahun. Ayah saya telah mendatangkan saksi palsu atas akad nikahnya, bahwa dia (saudari saya) menyetujui akan hal tersebut. Dan ibunya ikut terjerumus menjadi pengganti dia dalam mengadakan akad. Demikianlah, akad pun selesai dalam keadaan saudari saya senantiasa meninggalkan suaminya tersebut. Apa hukum akad nikad itu dan persaksian palsu tersebut?

Maka beliau rahimahullah menjawab:

Saudari perempuan tersebut, apabila dia masih gadis dan dipaksa oleh ayahnya untuk menikah dengam laki-laki tersebut, sebagian ahlul ilmi berpendapat sahnya nikah tersebut. Dan mereka memandang bahwa sang ayah berhak untuk memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disenangi putrinya apabila laki-laki tersebut sekufu’ [1] dengannya. Akan tetapi pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini, bahwasanya tidak halal bagi sang ayah atau selainnya memaksa anak yang masih gadis untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya, meskipun sekufu’. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wanita gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izinnya.”

Ini umum, tidak ada seorang wali pun yang dikecualikan darinya. Bahkan telah warid dalam “Shahih Muslim”:

“Wanita gadis, ayahnya harus minta izin kepadanya.”

Hadits ini memberikan nash atas wanita gadis dan nash atas ayahnya. Nash ini, apabila terjadi perselisihan (antara ayah dan putrinya), maka wajib untuk kembali kepada nash ini. Berdasarkan hal ini, maka perbuatan seseorang memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya adalah perbuatan haram. Sedang sesuatu yang haram tidak sah dan tidak pula berlaku. Sebab pemberlakuan dan pengesahannya bertentangan dengan larangan yang warid dalam masalah ini. Dan apa saja yang dilarang syariat ini maka sesungguhnya menginginkan dari umat ini agar tidak mengaburkan dan melakukannya. Kalau kita mengesahkan pernikahan tersebut, maknanya kita telah mengaburkan dan melakukan larangan tersebut serta menjadikam akad tersebut sama dengan akad nikah yang diperbolehkan oleh Pembuat syariat ini. Ini adalah suatu perkara yang tidak boleh terjadi. Maka berdasarkan pendapat yang rajih ini, perbuatan ayah anda menikahkan putrinya tersebut dengan laki-laki yang tidak disukainya adalah pernikahan yang fasid (rusak), wajib untuk mengkaji ulang akad tersebut di hadapan pihak mahkamah.

Adapun bagi saksi palsu, maka dia telah melakukan dosa besar sebagaimana tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?”

Kemudian beliau pun menyebutkannya dan pada waktu itu beliau bersandar kemudian duduk dan mengatakan:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar? Maka kami (para shahabat) menjawab: “Tentu ya Rasulullah!” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah Azza wa Jalla dan durhaka kepada orang tua.” Pada waktu itu beliau bersandar kemudian duduk seraya mengatakan: “Ingatlah, dan perkataan dusta, ingatlah, dan perkataan dusta, ingatlah, dan persaksian palsu…!” Beliau terus mengulanginya hingga para shahabat mengatakan, “Semoga beliau diam”.

Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan persaksian palsu. Wajib bagi mereka untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan mengatakan perkataan yang haq (benar), dan hendaknya dia menjelaskan kepada hakim yang resmi bahwa mereka telah melakukan persaksian palsu dan bahwasanya mereka mencabut kembali persaksian tersebut. Demikian juga si ibu, yang mana dia telah terjerumus menggantikan putrinya dengan dusta, dia telah berdosa dengan perbuatan tersebut dan wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak melakukan kembali perbuatan yang semisalnya. [Fatawa Al-Mar'ah]

Tidak Boleh Seorang Ayah Memaksa Putranya untuk Menikah dengan Wanita yang Tidak Disenanginya

Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin juga ditanya:

Apa hukumnya jika seorang ayah ingin menikahkan putranya dengan wanita yang bukan shalihah? Dan apa hukumnya apabila dia tidak mau menikahkannya dengan wanita yang shalihah?

Maka beliau rahimahullah pun memberi jawaban:

Tidak boleh seoramg ayah memaksa putranya untuk menikahi wanita yang tidak disukainya, baik dikarenakan aib yang ada pada wanita tersebut berupa aib dien, tubuhnya atau akhlaknya. Betapa banyak orang-orang yang menyesal ketika memaksa anak-anaknya untuk menikah dengan wanita-wanita yang tidak disukainya. Akan tetapi, dia mengatakan: “Nikahilah dia, sebab dia itu anak saudaraku atau karena dia itu dari kabilahmu” dan alasan yang lainnya. Maka tidak mengharuskan bagi si anak untuk menerimanya dan tidak boleh bagi orang tua untuk memaksa putranya agar menikahi wanita tersebut. Demikian juga, kalau seandainya si anak ingin menikah dengan wanita yang shalihah, kemudian sang ayah menghalang-halanginya, maka hal itu tidak mengharuskan bagi si anak untuk mentaatinya, apabila si anak memang senang dengan wanita shalihah tersebut dan ayahnya mengatakan, “Kamu tidak boleh nikah dengannya!” maka boleh baginya untuk menikah dengan wanita tersebut walaupun dihalang-halangi oleh ayahnya. Sebab seorang anak tidak harus taat kepada ayahnya dalam perkara yang tidak membahayakan ayahnya, bahkan justru bermanfaat bagi ayahnya. Kalau kita katakan bahwasanya wajib bagi seorang anak menaati orang tuanya dalam segala sesuatu hingga dalam permasalahan yang di dalamnya terdapat manfaat bagi si anak dan tidak membahayakan ayahnya, niscaya akan timbul berbagai kerusakan. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini, hendaknya seorang anak bersikap luwes terhadap ayahnya, lemah lembut dalam memahamkannya dan semampunya berusaha agar ayahnya merasa lega. [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makky, jilid 3 hal. 224]

Hukum Nikah Paksa bagi Janda

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang anak perempuan yang dinikahkan ayahnya tanpa ada ridha darinya, di mana ketika itu ia telah menjanda, ia telah menikah sebelumnya dengan seorang pria.

Jawaban:

Apabila kondisinya sebagaimana yang anda gambarkan maka nikahnya yang terakhir adalah tidak sah. Karena termasuk syarat-syarat pernikahan adalah adanya ridha dari kedua pasangan (suami-istri). Seorang janda tidak boleh dipaksa oleh ayahnya apabila ia telah berumur lebih dari 9 tahun (para ulama dalam hal ini pendapatnya sama). [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 80]

Hukum Seorang Janda yang Dipaksa Menikah oleh Ayahnya

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang janda yang dipaksa ayahnya untuk menikah.

Jawaban:

Khusus pernikahan seorang wanita dengan lelaki putra pamannya, sementara ia dipaksa oleh ayahnya untuk menikah dengan lelaki itu dalam kondisi sebagai seorang janda yang baligh, sehat akalnya dan kesadarannya. Sekarang pernikahan dengan putra pamannya itu telah berjalam selama 10 tahun dalam keadaan suaminya belum pernah menggaulinya. Ia tidak pernah merasa ridha kepada lelaki itu dan sekarang keadaannya semakin buruk. Ia selalu mendesak lelaki itu untuk memutus ikatan pernikahannya.

Kami simpulkan untuk anda, di mana telah jelas di hadapan anda adanya unsur paksaan dari ayah sang wanita untuk melakukan pernikahan dengan putra pamannya. Sedangkan kondisi ketika itu ia seorang janda yang baligh dan berakal sehat, maka pernikahannya itu adalah tidak sah. Karena termasuk syarat sahnya sebuah pernikahan adalah adanya keridhaan dari calon pasangan suami-istri. Bila keduanya tidak ridha atau salah satunya tidak ridha maka pernikahannya tidak sah.

Di dalam pemaksaan seorang ayah kepada anak-anaknya yang masih di bawah umur dan kepada anak-anaknya yang terganggu akalnya (abnormal), juga kepada anak yang masih gadis (bukan janda) untuk melakukan pernikahan, maka dalam hal ini ada dua pendapat.

Sedangkan bagi janda yang telah baligh dan berakal sehat, maka tidak ada khilaf (perselisihan ulama) bahwa sang ayah tidak berhak untuk memaksamya dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Karena telah diriwayatkan bahwa Al-Khansa bintu Haram Al-Anshariyyah meriwayatkan bahwa ayahnya pernah memaksa ia untuk menikah sementara ia dalam keadaan menjanda. Ia menolaknya dan kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya beliau membatalkan pernikahannya. [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 85-86]

Seorang Anak Perempuan Dinikahkan oleh Ayahnya ketika Masih di Bawah Umur dan ketika Dewasa Ia Merasa Tidak Ridha

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang anak perempuan yang diserahkan oleh ayahnya kepada seorang lelaki untuk dinikahi, sementara usianya masih kecil, lalu sang ayah meninggal dunia.

Setelah anak perempuan itu baligh, ia menolak penyerahan dirinya yang dilakukan ayahnya dulu, dan ia merasa tidak ridha kepada lelaki (suaminya) itu yang dulu ayahnya telah menyerahkan dirinya kepadanya.

Jawaban:

Apabila keadaannya adalah sebagaimana yang disebutkan, maka tidaklah perbuatan penyerahan yang dimaksud sebagai cara menikahkan yang sah, tidak pula wanita itu dianggap sebagai istri bagi pria tersebut hanya dengan sekedar melakukan apa yang anda sebutkan itu, karena tidak lengkapnya syarat-syarat dari akad nikah yang sah. [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 78.

Hukum Menikahkan Seorang Perempuan Yatim tanpa Seijinnya?

Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman As-Sa'di ditanya:

Apakah boleh menikahkan seorang anak perempuan yatim tanpa seijinnya?

Jawaban:

Seorang perempuan yatim tidak dibenarkan untuk dinikahkan oleh saudara laki-lakinya kecuali dengan persetujuannya. Dan bentuk persetujuan seorang janda adalah dengan ucapan lisan dan ijinnya, sedangkan persetujuan dari seorang gadis bisa dengan ucapan lisannya bisa pula dengan sikap diamnya sepanjang ia tidak mengucapkan kata "tidak".

Bila ibunya, bibinya (dari jalur ibu), atau saudara perempuannya mengatakan bahwa ia ridha sebelum ia mengatakannya sendiri, maka tidak perlu ada persaksian (pernyataan) langsung atas persetujuannya. Kecuali bila dikhawatirkan bahwa saudara laki-lakinya atau walinya ingin memaksanya untuk melakukan pernikahan, maka harus ada persaksian (pernyataan) langsung atas persetujuannya. [Al-Majmu'ah Al-Kamilah li Muallafat Asy-Syaikh As-Sa'di hal. 349/7]

Menikahkan Seorang Anak Perempuan dengan Lelaki yang tidak disukainya

Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya:

Apakah boleh memaksa seorang anak perempuan untuk menikah dengan lelaki yang tidak disukainya?

Jawaban:

Tidak boleh bagi ayah perempuan itu untuk memaksa dan tidak boleh pula bagi ibunya untuk memaksa anak perempuan itu menikah, meski keduanya ridha dengam keadaan agama dari lelaki tersebut. [Al-Majmu'ah Al-Kamilah li Muallafat Asy-Syaikh As-Sa'di hal. 349/7]

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Lihat pengertian kufu di Batasan Kufu dalam Nikah

Referensi:

1. Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai karya Abu ‘Abdirrahman Sayyid bin ‘Abdirrahman Ash-Shubaihi (alih bahasa: Abu Hudzaifah), penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’, hal. 451-456.

2. Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seputar Pernikahan, Hubungan Suami Istri dan Perceraian disusun oleh Amin bin Yahya Ad-Duwaisi (penerjemah: Abu Abdirrahman Muhammad bin Munir), penerbit: Qaulan Karima, hal. 23-28.

(fadhlihsan.wordpress.com)
Read More..